Jumat, 02 November 2012

Tempat Pemeliharaan Ikan



Oleh: Eko Budi Kuncoro, Owner ebbe-Akvarium, Solo
Tempat pemeliharaan adalah sarana untuk menampung ikan. Tempat pemeliharaan berupa wadah atau bak budidaya meliputi beberapa macam, diantaranya kolam tanah, hapa dalam perairan umum, kolam semen, bak fiber glass dan akuarium.

A. Kolam Tanah
Bagi kebanyakan peternak ikan di desa, mereka lebih mudah memakai kolam tanah, biasanya mendapatkan aliran air yang kontinyu karena merupakan lahan yang dialiri sungai, atau desa dimana banyak aktifitasnya berhubungan langsung dengan air. Di desa ini biasanya semua aktifitas berhubungan dengan air seperti taman pancingan, desa wisata air, kolam-kolam budidaya dll. Desa ini mendapatkan sumber air dari beragam jenis diantaranya sungai, saluran irigasi dan sumber air artesis yang airnya menyembul ke permukaan (tuk, sendang : Jawa).

             Gb.1. Di sentra budidaya ikan,  saluran  irigasi banyak dibuat.

Di tempat inilah biasanya banyak daerah atau sentra ikan hias seperti di Tulungagung, Blitar, Kediri di Jawa Timur. Di Jawa Tengah ada di Ambarawa, Janti dan Polanharjo di Klaten, Pengging dan Tlatar di Boyolali, Ngrajek di Magelang juga di daerah Purbalingga  dan Banyumas. Di Jawa Barat hampir semua kabupaten mempunyai desa dimana ada kegiatan budidaya ikan walaupun kebanyakan ikan konsumsi.


                            Gb.2. Kolam tanah banyak mengandalkan suplai air.

Tidak dapat diragukan lagi kolam tanah atau  kolam semi permanen (sisi kolam disemen tetapi dasarnya tetap tanah)  dengan pengairan yang kontinyu adalah aset terbesar dalam budidaya ikan hias.  Dengan tipe ini, budidaya ikan secara kuantitas dapat  melonjak dengan cepat dibanding tipe apapun. Sebagai bukti 3  daerah yaitu Kediri, Tulungagung dan Blitar adalah  sentra ikan hias terbesar di Indonesia. Mereka menguasai pangsa pasar ikan hias lokal, bahkan Jakarta sebagai ibukota ikan hias pun juga dibanjiri ikan hias lokal asal 3 daerah tersebut. Ikan maskoki, koi, oscar, patin, bawal, silver dollar, gupy, platy molly dan ikan hias lainnya banyak dihasilkan oleh ke 3 sentra ikan hias ini.
Kelebihan dan kekurangan kolam tanah adalah :

Kelebihan :
1.     Produksi massal hampir pasti dapat digenjot.
2.     Memberikan pakan kepada benih lebih mudah karena hanya mengandalkan pupuk.
3.     kebutuhan air biasanya  sudah tersedia tanpa energi listrik.

Kelemahan :
  1. Bila ada wabah penyakit mudah melanda semua penghuni kolam.
  2. Saat musim pancaroba atau perubahan suhu secara drastis bisa mempengaruhi kesehatan ikan.

                      Gb.3. Kolam semi permanen, dasar masih berupa tanah

Kolam tanah mempunyai kelebihan utama berupa pengadaan pakan untuk ikan benih menjadi lebih mudah. Air kolam sebelum dipakai dikeringkan dulu 2-3 hari, Kemudian dilakukan pemupukan dengan kapur (biasa buat bahan bagunan) sekitar 100-250g setiap m2 untuk kolam baru dan 10 g setiap m2 untuk kolam lama. Kotoran ayam 25g/m2, urea 2 g/m2 dan TSP 5 g/m2. Bila di kolam sebelumnya sudah banyak lumut, sebaiknya tidak diberikan urea, karena akan meledak populasi lumutnya. Pupuk digunakan di kolam mempunyai tujuan untuk menaikkan populasi plangton, makanan ikan benih.


Gb.4. Saluran irigasi untuk mensuplai air ke kolam, memakai pintu buka tutup

B. Jaring Hapa di Kolam
Di kolam yang besar, atau empang, sendang, sungai mati, rawa, waduk dan danau dapat juga digunakan untuk  memelihara atau membesarkan benih ikan hias. Caranya tentu dengan dibuat hapa. Hapa adalah jaring halus untuk mengurung benih supaya tetap di dalam hapa. Tingkat kehalusan hapa sangat beragam tinggal memilih ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan dibesarkan.
Cara ini sudah banyak digunakan petani ikan hias di daerah Bogor, Depok dan sekitar Jakarta yang banyak mempunyai situ, semacam danau kecil.


                                   Gb. 5. Hapa untuk membesarkan ikan

Di beberapa sentra ikan hias di Jawa Timur juga mengembangkan hapa di sawah. atau bekas sawah yang tanahnya dibuat lebih dalam sehingga bisa di taruh hapa di dalamnya.




                 Gb. 6. Hapa untuk membesarkan ikan gupy, platy  dan moly

Demikian juga saat ikan hias Lou han dulu meledak, banyak pengusaha membesarkan di karamba, seperti di berbagai waduk di Jawa Timur sekarang banyak ikan lou han karena dulu saat dibesarkan di karamba banyak yang lolos ke waduk.
Kelebihan dan kekurangan membesarkan ikan di hapa adalah :

Kelebihan :
  1. Kebutuhan air cukup melimpah, tanpa energi listrik.
  2. untuk ikan benih, pakan dari alam berupa plankton cukup melimpah.
Kekurangan :
  1. Keamanan menjadi kendala, karena di tempat umum.
  2. BIla ada pencemaran atau up welling (proses naiknya air dasar ke permukaan karena pengaruh cuaca) menyebabkan ikan banyak yang mati.

                  Gb.7.  Karamba untuk membesarkan ikan secara massal


C. Kolam Semen
Kolam ini adalah pilihan utama para peternak ikan hias di kota, dimana lahan usaha menjadi sangat mahal untuk budidaya ikan hias.
Tidak ada ukuran baku luas kolam semen yang akan dibangun, karena dihubungkan dengan luas lahan dan jumlah ikan yang akan dibesarkan.
Kolam yang modern biasanya bagian tembok dan dasar kolam dilapisi dengan resin setelah dilapisi dengan serat fiber, sehingga tidak mudah bocor.
Secara umum ikan di kolam lebih menyukai luas (horizontal)  dibanding dalam (vertical). Hal ini disebabkan oleh kandungan oksigen terlarut di air yang ada di kolam yang dangkal lebih banyak dibanding di kolam yang dalam.
Kolam semen di perkotaan biasanya menggunakan sistem resirkulasi, artinya air di kolam dialirkan ke bak filter, kemudian kembali ke kolam lagi dengan kualitas air yang relative lebih bersih dan jernih  saat kembali ke kolam karena telah difilter.




Gb. 8-9-10  Tidak ada ukuran yang baku
                   untuk kolam semen.


Gb.11. Pastikan semua kolam  
            mendapatkan tambahan oksigen
            dengan aerator

Dalam suatu farm atau peternakan ikan hias, ada sistem filter yang digunakan untuk setiap kolam (satu kolam satu filter) ada juga yang menggunakan sistem parallel, satu filter untuk beberapa kolam sekaligus.  Cara terakhir ini harus lebih teliti dan rutin di cek kualitas airnya. Karena melibatkan banyak kolam, kalau satu kolam ada ikan yang sakit dan terinfeksi, maka akan berakibat pada semua kolam yang mempunyai basis filter yang sama. Cara terakhir inilah yang juga diterapkan pada skala industri, sehingga melibatkan banyak peralataan atau sistem filter bertingkat.
Filter biologis bisa diletakkan di atas kolam, dibawah kolam atau sejajar kolam.  Semuanya digerakkan dengan pompa air dan tekanan gravitasi.  Sebagai contoh filter di atas kolam seperti contoh gambar di bawah ini :


Gb.12. Filter di atas kolam

Tidak semua kolam ikan hias memakai sistem filter biologis seperti di atas. Hanya ikan-ikan tertentu yang membutuhkan kualitas air yang sangat baik seperti ikan koi dan ikan-ikan yang biasa hidup di air deras mengharuskan kolam memakai filter biologis.
Ada juga kolam yang hanya membutuhkan aerator saja. Kebanyakan ikan-ikan tetra  dan semua ikan yang berukuran mini (3-7 cm), cukup menggunakan hembusan oksigen dengan aerator tanpa filter biologis.
Tetapi  bila hanya menggunakan aerator saja, maka air harus sering diganti, atau setidaknya mengganti air sebanyak air yang hilang disipon. Penyiponan adalah langkah standar dalam budidaya ikan. Cara ini sangat ampuh menurunkan kandungan amoniak yaitu dengan menyedot semua kotoran baik kotoran ikan atau bekas pakan yang tidak termakan ikan.
Di dalam budidaya ikan,  penyiponan biasa dilakukan 2 hari yaitu pagi hari sesudah 5-10 menit pemberian pakan. Kedua sore hari , juga sesudah pemberian pakan. Air yang terbuang karena proses ini sekitar 5-10% dari volume total air kolam. Air pengganti harus sudah diendapkan dulu selama semalam.

Gb.13.  Kolam tanpa filter, hanya
             mengandalkan hembusan oksigen    
             dari  aerator.

Gb 14. Kolam berfilter, di pakai untuk         
           ikan yang biasa hidup di air deras.

E. Bak Fiberglass
Bak fiberglass merupakan pilihan untuk  menghemat tempat dan dapat dipindah-pindah. Sebenarnya bak yang dapat dipindah tidak hanya dari bahan fiberglass, tetapi ada juga yang dibuat dari bahan plastic.
Bentuk kolam dari bahan plastic dan fiberglass bermacam-macam ada yang berbentuk bujursangkar, empat persegi panjang, kerucut dan  silindris/ bulat. Ukuran bak juga beragam tinggal disesuaikan dengan kebutuhan.
Bak fiber berbentuk silinder atau bulat lebih banyak digunakan untuk membesarkan benih ikan laut di berbegai industri farm skala besar. Bentuk silindris memang mempunyai kelebihan karena saat diputar dengan arus atau blower, maka semua air akan berputar sehingga semua spot mempunyai peluang yang sama  untuk mendapatkan suplai oksigen. Kebanyakan ikan laut sangat sesuai memakai bentuk seperti ini. Tetapi untuk ikan air tawar tentu mempunyai perhitungan yang lain.
Ikan air tawar ada yang hidup di daerah yang menggenang, mereka tidak terlalu butuh oksigen terlarut yang tinggi, sehingga bentuk kolam konvensional atau bak yang berbentuk persegi dan bujur sangkar adalah pilihan yang tepat.

E. Akuarium
Akuarium merupakan sarana utama dalam melakukan aktifitas budidaya ikan.  Industri ikan hias sebesar apapun pasti juga menggunakan akuarium, karena kualitas ikan dapat diketahui dengan jelas menggunakan  bak ini dibanding jenis lainnya.

Gb. 15.a-b.  Akuarium untuk ikan betta.

Ikan sekelas arowana betapa pun baik kualitasnya, tetap tidak bisa dilihat dengan jelas bila menggunakan kolam. Nah, disinilah peran akuarium di dalam industri ikan hias.
Akuarium selain mudah dibersihkan, juga mengirit tempat, karena bisa disusun 3 bahkan 4 susun. Ukuran pun tidak perlu bingung memikirkannya. Ukuran kecil biasanya 40 x 30 x 30 cm, sedang 80 x 40 x 40 cm atau besar sekitar 120 x 50 x 50 cm.
Seperti kolam semen, di akuarium ini ada yang hanya mengandalkan aerator dengan sistem sponge filter saja atau dengan system filter biologis. Filter biologis mempunyai beragam bentuk filter diantaranya : sponge filter, back filter, internal filter, canister filter dan filter biologis rakitan.
Terdapat 3 cara kerja filter di akuarium yaitu :

1. Secara mekanis, filter bekerja dengan menyaring partikel kotoran yang ada di air akuarium. Dengan bahan yang baik, air menjadi lebih bersih. Bahan yang dipakai biasanya beragam bebatuan dan busa filter.

2. Secara  Kimia, bahan filter bekerja dengan cara menyerap bahan-bahan beracun yang ada di air, seperti zat asam, ammonia, kaporit, dan beragam obat ikan seperti metil biru pun dapat dinitralisir dengan bahan filter ini. Bahan filter jenis ini misalnya zeolit, arang aktif dan beragam bahan cair yang dimasukkan di air.

3. Secara Biologis, filter bekerja dengan merombak bahan berbahaya seperti ammonia (kotoran ikan dan sisa pakan) menjadi bahan yang lebih aman bagi ikan. Bakteri pengurai berada di bak filter seperti di bahan filter berupa bioball dari plastic, ring keramik, bahkan di busa filter juga terdapat  Nitrosomonas dan Nitrobacter, dua bakteri pengurai yang bekerja seperti bakteri pengurai di bak septik tank.
Hampir semua bahan filter bekerja dengan 3 mekanisme di atas. Beberapa filter yang popular di akuarium diantaranya :

1. Hang On Filter
Adalah filter yang menggantung dan diletakkan di belakang atas akuarium. Jenis ini juga sering disebut sebagai back filter. Jenis ini paling popular dan banyak digunakan di rumah. Bentuknya portable dan mudah dibersihkan.
Filter ini bekerja secara mekanis, biologis dan bila dimasukkan juga bahan arang aktif  sebagai bahan filter, maka cara kimiawi juga bekerja dalam sistim ini.
Karena bentuknya kecil, maka filter ini cocok untuk akuarium kecil dengan kepadatan ikan yang rendah.


Gb.16.  skema hang on Filter

Gb.17.  Produk Hang on filter

2. Internal filter
Filter jenis ini dimasukkan ke dalam akuarium, sehingga disebut internal filter. Sistem filter ini memakai cara kerja mekanis dengan cara menyaring partikel kotoran air dan secara biologis, karena terdapat ruang di busa filter di dalam alat ini untuk berkoloni bakteri pengurai.


                                         Gb.18. Skema  Internal filter



                                         Gb.19.  Contoh produk  internal filter.


Filter jenis ini tidak direkomendasikan untuk di pakai saat memelihara benih ikan karena bila benih tersedot kedalam boks filter, maka biasanya akan mati.
Filter ini mempunyai kelemahan, yaitu kotoran di busa filter lebih cepat tercapai sehingga pemiliknya harus lebih sering membersihkan busa filter. Kelebihannya adalah adanya arus  yang kuat sehingga tercipta oksigen terlarut yang tinggi di akuarium.

3. Sponge Filter
Adalah filter yang menjadi bahan utama adalah busa sepon (sehingga disebut sebagai sponge filter). Filter ini paling banyak dipakai oleh peternak ikan, terutama saat memelihara dan membesarkan benih ikan.
Spoge filter bekerja dengan cara mekanis yaitu menyaring partikel kotoran di air dan  secara biologis, karena terdapat ruang untuk berkoloni bakteri pengurai.
Kelebihan sponge filter adalah arus yang tercipta tidak terlalu kuat sehingga cocok untuk memelihara benih ikan. Harganya paling murah dan hanya mengandalkan aerator sebagai penghembus oksigennya.

                                        Gb.20.  Skema Sponge Filter

                                        Gb.21. Pemakaian  sponge filter

4. Filter ”atas”
Jenis filter yang paling banyak dijual di Indonesia adalah filter jenis ini. Filter menggunakan pompa air, kemudian air dialirkan ke boks filter di atas akuarium dan setelah melewati boks ini, maka air kembali ke akuarium.
Air yang melalui sistem ini akan mengalami 2 proses yaitu secara biologis dan mekanis, kalau dimasukkan juga bahan penyerap seperti zeolit dan arang aktif, maka cara kimiawi juga berperan di bak filter ini.


Gb.22. Skema Filter mekanis “atas”

Kelemahan cara ini adalah tingkat “clogging” atau air mampet sangat tinggi sehingga harus sering dibersihkan. Filter sistem ini juga kurang tepat untuk budidaya ikan dalam fase benih, karena anak ikan bisa tersedot pompa di dalam akuarium.

5. Canister Filter
Adalah filter berupa bak filter tersendiri dan dihubungkan dengan pipa, yaitu pipa masuk ke canister filter dan pipa kembali ke akuarium.
Pompa air terletak di dalam boks/canister filter tersebut. Merupakan filter yang paling mahal diantara filter yang lainnya.


                                              Gb.23.  Canister Filter

Di dalam sistem ini bekerja semua prinsip filter, karena semua bahan dipakai, mulai dari ring keramik yang berpori untuk bersembunyi bakteri pengurai (secara biologis). Terdapat juga pellet arang aktif yang secara kimiawi akan menyerap bahan yang beracun dan tidak berguna di akuarium. Dan dimasukkan bahan busa yang dipotong-potong berbentuk kubus yang berfungsi secara mekanis dan juga biologis.
Jenis ini memang paling baik, tetapi karena mahal, maka biaya yang dibutuhkan akan sangat banyak kalau memelihara banyak akuarium.
 Lagi pula jenis ini juga tidak sesuai untuk ikan fase anakan karena akan tersedot oleh pompa air yang kuat.


                                          Gb. 24. Contoh produk Canister filter

6. Do it Your Self filter
DiY filter, atau filter yang dibuat sendiri berdasarkan ukuran yang disesuaikan.  Ukuran filter sangat ditentukan oleh kepadatan ikan, ukuran kolam/akuarium dan kekuatan pompa air yang menstransfer air dari akuarium ke filter.
Filter ini sering disebut sebagai filter biologis, padahal dengan filter cara ini, maka semua prinsip kerja baik biologis, kimiawi dan mekanis berfungsi semua.
Saat dipakai di akuarium, bak filter ini biasanya diletakkan di bawah akuarium. Untuk budidaya, biasanya akuarium disusun secara berseri kemudian semua air dialirkan ke filter dan dari filter air di bagi menuju ke semua akuarium dengan menggunakan keran air.
Beberapa bahan untuk filter diantaranya : Ring keramik mempunyai permukaan yang berpori-pori sehingga sangat cocok untuk menempel atau berkoloni bakteri pengurai. Busa selain berfungsi secara mekanis dalam menyaring air yang kotor juga banyak mempunyai ruang untuk berkoloni bakteri pengurai. Zeolit jelas mempunyai fungsi sebagai penyerap bahan-baan beracun seperti ammonia, H2S dan zat kimia lainnya. Pelet arang aktif berfunsi juga secara limiawi seperti halnya zeolit.


                                    Gb.25. Skema  Filter biologis


Gb. 26. Akuarium untuk membesarkan
            ikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar